I kinda believe that saying is believing. That’s why I promised myself to give up singing sad song right after I found out that someone I got a crush on did something sweet for someone he got a crush on who was not me right after I covered “Pupus” on Petang Puisi Tesas last semester (pardon my complicated sentence). But why does it seem that break up songs mostly get along very well with my ears then automatically my lips start singing the lyrics? OMD… .
-
-
"Republik ini udah kebanyakan sarjana nyinyir."Cina di film Cin(T)a (2009)
-
"People think of education as something they can finish."Isaac Asimov (Yes, Sir, while in fact it’s what a lifetime journey all about)
-
-
-
The trouble with hugging a teddy bear is he doesn’t hug you back.
—Personal experience, personal statement
-
Dear, myself…
Message to a graduate – the inimitable Grant Snyder brings his brand of comic irreverence to the seasonal standby of commencement addresses and their cliches.
But not all graduation speeches are created equal: Here are some of history’s most timelessly uplifting and thought-provoking speakers: Greil Marcus, Ann Patchett, Jacqueline Novogratz, Neil Gaiman, David Foster Wallace, Ellen DeGeneres, Aaron Sorkin, Barack Obama, Ray Bradbury, J. K. Rowling, Steve Jobs, Robert Krulwich, Meryl Streep, and Jeff Bezos.
-
"Kemungkinan itu dihasilkan oleh tiga perkara: harapan, doa, dan usaha."
-
"Gue udah ke Vatican dan belom ke Mekkah."Ratih, cewek berhijab yang nggak pernah boleh ke mana-mana sama Bokapnya tau-tau dapet beasiswa ke Itali
-
Pengalaman EoS Pertama: Temen Nonton
EoS itu singkatan dari Europe on Screen, festival film Eropa yang rutin digelar tiap tahun. Puluhan judul film buatan sineas dari berbagai negara Eropa diputar serentak di beberapa kota di Indonesia selama beberapa hari. Sebenernya udah dari lama banget pengen nonton EoS, tapi karena dulu-dulu Anida anaknya kebanyakan wacana, baru malam ini kesampean. Walau ujan dan sendirian—gara-gara Martha php, Mio mager, dan Ikhlas gak suka film “anti-mainstream”, namanya udah niat, Sabtu sore gua cuss ke Goethe Institut di Jalan Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat.
Di Jakarta sendiri EoS main di Erasmus Huis, IFI Salemba, IIC, SAE Institut, sama di Goethe. Gua milih Goethe karena film yang lagi diputer film lawak. Yeah I came to catch some laugh. Sebenernya Kamis kemarin diajakin Martha nonton di Erasmus, tapi kayaknya filmnya kurang lawak, jadilah gua rela menunggu sampe akhir pekan demi ngakak berjamaah.
As I said before, gua dateng sendirian. Tapi pas banget baru masuk Goethe ketemu seorang cewek—sebut saja Mawar—yang dateng sendirian juga. Jadilah gua kenalan sama doi dan berbincang-bincang cilik. Kebetulan kita sama-sama dateng kecepetan, jadi ada lumayan banyak waktu ngobrol sebelum film dimulai.
Singkat cerita, gua ngerasa gak sefrekuensi sama Mawar ini. Gimana ya jelasinnya, yang jelas kalo sekampus sama nih anak she’s not the one I’m gonna hang out with. So-called pedantic, I guess. Dan troppo seriosa. Fiuh akhirnya pintu auditorium dibuka juga untuk film Belgia yang judulnya Hasta La Vista. Seperti yang udah gua bilang barusan, ini film lawak. Udah pernah nonton Eurotrip? Mungkin bisa dibilang ini Eurotrip versi diffable. Pecah dong seaudit nontonnya. Dan komentar Mawar saat filmnya selesai adalah:
“Kok orang Indonesia gampang banget ketawa, ya?”
Duh. Facepalm. Gua jawab aja, “Haha, ya karena lucu.”
Lalu gua ke toilet karena beneran kebelet pipis. Dia nunggu di depan audit. Pas gua selesai pipis, dia ilang. Kalo kata Sheila on 7, mungkin salahku melewatkanmu tak mencarimu sepenuh hati. Atau mungkin alam bawah sadar gua yang emang gak mengharapkan nonton film kedua sama Mawar lagi. I did wish to meet/ greet someone else. Kecapean. Gua keluar nyari sinyal karena sinyal di dalem busuk banget. Eh gua baca twit kalo Jupe, senior di kampus, lagi mau nonton juga.
Akhirnya gua nonton film kedua, Superclasico (Danish flick, Gottlieb’s mother tongue just so you know LOL), sama Jupe. Dan di sebelah gua juga ada anak cewek (yang sempet ngobrol basa-basi sebelum film mulai) yang juga ngerti cara nikmatin film komedi. Feel-nya beda banget. Tawa gua lebih lepas dan seneng juga ada temen kiri-kanan yang bisa diajak komen-komen cilik sepanjang film. Sampe pas jalan keluar sebelum pisah jalur juga gua masih ngebahas kegilaan di film barusan sama Jupe. Pas waktu film pertama, duh, mau berbagi sama siapa :___D
Hoah.
Jadi, kesimpulannya adalah, asik kalo bisa nonton sama temen, tapi temen yang bisa diajak nikmatin filmnya. Dan dari pengalaman beberapa kali nonton sendirian, menurut gua lebih baik nonton sendiri daripada nonton sama temen yang salah. Me-time lo nggak keganggu.
Oh ya satu hal yang gua suka dari nonton film adalah nunggu sampe kredit titel selesai. Hal itu yang gak bisa gua nikmatin kalo gak nonton sendirian, karena gak semua temen nonton mau “buang waktu” buat hal secipil itu.
Pelajaran berharga. Nyari temen nonton aja nggak segampang itu. Apalagi nyari temen hidup ya fufufu. Ada yang suka nonton sampe kredit titel selesai? If you do, call me maybe? HAHA.

