1. Sano

    Samurai X tuh kayak F1. Sebenernya gue nggak suka-suka amat, tapi di F1 ada Kimi dan di Samurai X ada Sano. Super ngefans sama mereka berdua. Dulu gue nggak suka komik, tau Sano cuma dari nonton film kartunnya. Baru sekarang nih bisa baca komiknya (dan ngoleksi, yay!) yang baru dicetak ulang. Dan, subhanallah… Sano-nya ganteng banget :”D jadi ngerti konsep hentai yang sebelumnya menurut gue aneh bgt kenapa orang bisa pada suka hahahah.

  2. Pilih

    Gatel dari kemarin pengini ngomong ini but it seems like ppl around me are sceptic already. Jadi tulis di sini aja deh, daripada gemes sendiri.

    Soal pilkada nggak langsung. Not that I’m fond of political stuffs. Cuma suka kesel aja sama orang pesimis dan judgemental, dalam hal apa pun.

    Oke, jadi gini. Setau gue dalam trias politica itu ada tiga komponen—legislatif, eksekutif, yudikatif. Yudikatifnya kita abaikan dulu karena masalahnya ada di dua komponen pertama. Nah, sekalipun mereka jalan bertiga, tapi kayak orang ngeliatnya penguasa tuh ya Presiden/Gubernur/Walikota dst (eksekutif) dan mengabaikan peran DPR/DPRD (legislatif). Jeleknya lagi, orang udah keburu ngecap kalo anggota dewan tuh korup, gabut, bego, anything bad just name it. Udah apatis duluan. Belakangan mulai muncul pimpinan daerah yang ngasih angin segar buat masyarakat. Masyarakat pun percaya kalo sang pemimpin itu semacam juru selamat yang bisa kerja sendiri melawan tikus-tikus yang bisanya cuma makan duit rakyat.

    Masalah besarnya satu: tikus-tikus itu lo juga yang pilih, nyet! Ke mana lo saat kacrut-kacrut itu menang melawan calon yang jauh lebih kompeten? Lebih jauh lagi, ke mana lo lo pada yang lebih kompeten saat kacrut-kacrut nggak tau diri itu berani-beraninya nyalonin diri jadi wakil lo di dewan? Wake up, ppl, more or less the fault is ours! Pemimpin daerah sebagus apa pun juga nggak bisa kerja sendiri karena kekuasaan eksukutif nggak mutlak. Lagian lo juga pasti ngamuk lagi kalo kekuasaan eksekutif mutlak karena itu namanya dictatorship.

    Gue nggak bicara atas nama golongan apalagi partai tertentu. No shit, I do hate em as much as you might do. Tapi kalo kejadiannya udah begini, ya refleksinya balik ke kita lagi juga. Supaya nggak apatis sama pemilu legislatif. Supaya lebih cerdas dalam memilih mereka yang bakal ngomong atas nama kita. Supaya sadar kalau yang harus bersih nggak cuma eksekutifnya, tapi legislatif (dan yudikatif) juga. Dan siapa yang bisa melakukan itu semua? Ya kita, dan caranya “semudah” datang ke TPS dan pake hak lo untuk memilih mereka yang lo yakini bakal ngasih perubahan baik, seyakin lo milih Jokowi atau Prabowo di Pilpres kemarin. Riset lah vro kalo gak kenal sama orangnya. Show them that they can’t shut us up thru this downgraded system. Yah walaupun milihnya masih 5 taun lagi, sih. Pelajaran mahal.

  3. Kimi Raikkonen’s early career in Finland Part 2

  4. Kimi Raikkonen’s early career in Finland Part 1 (http://www.dailymotion.com/video/xs2xeb)

  5. Sampai Kapan

    Sampai kapan kita mau pura-pura kalau kita baik-baik saja?

    Kalau kita masih bersua dan bertukar sapa, itu memang fakta.

    Kalau kita masih tertawa pada lawakan yang sama, itu benar adanya.

    Kalau kita masih saling hina seperti saat kita belia, itu sudah biasa.

    Kalau jarak bukan prahara karena kita punya media, itu sah sah saja.

    Tapi hati bilang kita bukan yang dulu lagi.

    Canda kita mati suri, rahasia juga sudah tak terlalu berarti.

    Padahal kita masih bersama, padahal komunikasi masih terjaga, padahal masa lalu belum terlalu lama, tapi kenapa rasanya dekat kita berjeda?

    Duniamu yang baru, duniaku yang baru, garis paralel yang tak bertemu.

    Kamu memang cuma satu, tapi bukankah setiap orang juga begitu?

    Ah.

    Mungkin kita cuma beranjak dewasa.

    Atau memang bersama selamanya hanya utopia.

  6. Finally this kind of meme I could relate myself to :”D

    Finally this kind of meme I could relate myself to :”D

  7. Kyoto Inferno

    Setelah yang pertama cuma bisa nonton di laptop, yang kedua ini akhirnya tayang di bioskop. Jualan masa lalu sih ini judulnya, jadi nontonnya atas nama nostalgia—walau sebenernya gue ngefansnya bukan sama Samurai X tapi sama Sanosuke Sagara dan di versi live action ini Sano-nya absurd banget. Tapi samas nggak nyesel lah nontonnya. Kalo dibandingin yang pertama yang ini nampaknya lebih seru dan konfliknya lebih kompleks. Koreogrfi sama wardrobe-nya juga sabi. Tokohnya juga nambah walaupun favorit gue masih Hajime Saito sama Megumi Takani. Shishio, Aoshi, sama Shojiro-nya boleh dipuji juga. Cuma durasinya agak kelamaan aja. Best part? Hm kayaknya pas bagian pedang Arai. Pas gregetnya. Tapi yang paling bikin gregetan sih tetep endingnya.

    Btw fyi komiknya sekarang dicetak ulang. Sabi nih dikoleksi.

  8. "Kok makan sosis mulu, itu banyak sodiumnya, lho."
    Brother majoring in nutritional science told me that. Even if idk what am I gonna be if I eat sodium that much, idk either if he’s bragging about his knowledge or simply care about my health, this is one of the rare-sweet things he ever said to me. Grazie mille, fratello ti amo :’)
  9. Story of My Life

    Working in a publishing house, being an editor (it means reading/judging/revising “books” before they were books), getting free books every week—let’s say she’s sick of books.

    Yet she spends her money on books as well.

    :”)

  10. Lost in Translation

    Lost in Translation

About me

I love puns. I love rhymes. I love words. And the beauty they possess. And the joy they bring. And the way they make me feel.

Likes